Kebiasaan saya dalam menyampaikan materi tentang ekonomi adalah dengan mewajibkan semua mahasiswa untuk menyusun makalah yang berhubungan kiprah yahudi khususnya yang berkaitan dengan ekonomi dunia. Di bawah ini saya cuplik dari makalah Siti Meidinar. :
Sejarah
Organisasi Yahudi Penguasa Dunia
Seperti apa sih kekuatan Yahudi mencengkeram dunia ini,
apakah hanya dengan organisasi rahasia semacam Freemason? Nyatanya, selain
organisasi tersebut, campur tangan Yahudi juga lewat bentukan lain seperti
Rothschild. Pernah dengar Rothschild? Lewat kisah ini kita akan lihat penetrasi Yahudi pada
setiap segi pemerintahan dan ekonomi dunia. Mengingat naskah yang cukup
panjang, kami akan bagi menjadi dua artikel bersambung.Rothschild adalah dinasti Yahudi Bavaria (Jerman) yang
memiliki arti sebagai “Tameng Merah”. Dalam bahasa Inggris disebut
“Red-Shield”. Dinasti Rothschild yang melegenda dan sangat berkuasa hingga kini
berawal dari sejarah Eropa di abad ke-18 Masehi dengan kelahiran seorang bayi
Yahudi Jerman yang kemudian diberi nama Mayer Amshell Bauer.
CATATAN: Sumber lain menyebut bahwa berdasarkan kenyataan, banyak anggota
Rothschild adalah keturunan Khazar. Mereka datang dari sebuah negara yang
disebut Khazaria, yang terletak di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia yang
sekarang dimiliki oleh Georgia.
Alasan mengapa keturunan Khazar mengklaim mereka sebagai orang Yahudi adalah
karena pada tahun 740 Masehi, atas perintah dari raja mereka (King Moon),
rakyat Khazaria harus memeluk kepercayaan Yahudi, tetapi tentu saja itu tidak
mengubah gen mereka dari Mongolia Asia (Turki) menjadi orang Yahudi.
Mayer Amshell Bauer lahir di tahun 1743 di sebuah perkampungan Yahudi di
Frankfurt, Bavaria. Ayahnya bernama Moses Amschell Bauer yang bekerja sebagai
rentenir dan tukang emas yang berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat
lain, dari kota yang satu ke kota lainnya.
Bakat Moses sebagai rentenir kelak akan diteruskan dan dikembangkan oleh
anak-cucunya. Kelahiran Mayer membuat Moses menghentikan bisnis ‘nomaden’nya
dan menetap di sebuah rumah agak besar dipersimpangan Judenstrasse (Jalan
Yahudi) kota Frankfurt. Di rumah itu, Moses membuka usaha simpan-pinjam
uangnya. Di pintu masuk kedai renten-nya, Moses menggantungkan sebuah Tameng
Merah sebagai merk dagangnya: Rothschild.
Sedari kecil Mayer Amshell dikenal sebagai anak yang cerdas. Dengan tekun sang
ayah mengajari Mayer segala pengetahuan tentang bisnis rentennya. Moses juga
sering menceritakan pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai
sumber. Moses sebenarnya ingin menjadikan Mayer sebagai pendeta Yahudi. Namun
ajal keburu menjemputnya sebelum sang anak tumbuh dewasa.
Sepeninggal ayahnya, Mayer sempat meneruskan usaha ayahnya
di rumah. Namun tidak lama kemudian Mayer ingin belajar lebih mendalam tentang
bisnis uang. Akhirnya ia bekerja di sebuah bank milik keluarga Oppenheimer di
Hanover.
Di bank ini, Mayer dengan cepat menyerap semua aspek bisnis perbankan modern.
Kariernya pun melesat, bahkan sang pemilik bank yang terkesan dengan Mayer
menjadikannya sebagai mitra muda dalam kepemilikian bank tersebut.
Setelah merasa cukup banyak menimba ilmu tentang bisnis perbankan, Mayer
kembali ke Frankfurt, meneruskan usaha ayahnya yang sempat dilepaskannya untuk
beberapa waktu. Mayer telah berketetapan hati, bisnis uang akan dijadikan
sebagai bisnis inti keluarga ini. Ia akan mendidik anak-anaknya kelak dengan
segala pengetahuan tentang bisnis penting tersebut dan menjadikannya keluarga
besar penguasa bisnis perbankan Eropa dan juga dunia.
Salah satu langkah yang diambil Mayer adalah dengan mengganti nama keluarga
‘Bauer’ yang dalam bahasa Jerman berarti ‘Petani’ dengan merk dagang usahanya,
yakni ‘Tameng Merah’ (Rothschild). Mayer sendiri memakai gelar Baron Rothschild
I.
Masuk Kalangan Istana
Berkat kepiawaiannya, usaha rumahan ini berkembang pesat.
Rotshchild I mulai melobi kalangan istana. Orang yang pertama ia dekati adalah
Jenderal von Estorff, bekas salah satu pimpinannya ketika masih bekerja di
Oppenheimer Bank di Hanover. Rothschild I mengetahui benar, sang jenderal
memiliki hobi mengumpulkan koin-koin kuno dan langka. Dengan jeli Rothschild
memanfaatkan celah ini untuk bisa dekat dengan sang jenderal.
Untuk menambah perbendaharaan koin-koin kuno dan langka, Rotshchild menghubungi
sesama rekannya dalam jaringan orang Yahudi yang dalam waktu singkat berhasil
mengumpulkan benda-benda tersebut. Sambil membawa barang yang sangat diminati
Jenderal von Estorff, Rothschild I menemui sang jenderal di rumahnya dan
menawarkan semua koin itu dengan harga sangat murah.
Jelas, kedatangan Rotshchild disambut gembira sang jenderal.
Bukan itu saja, rekan-rekan dan teman bisnis sang jenderal pun tertarik dengan
Rothschild dan kemudian jadilah Rotshchild diterima sepenuh hati dalam
lingkaran pertemanan dengan Jenderal von Estorff.
Suatu hari, tanpa disangka-sangka, Rothschild I dipertemukan oleh Jenderal von
Estorff kepada Pangeran Wilhelm secara pribadi. Pangeran ternyata memiliki hobi
yang sama dengan jenderal. Wilhelm membeli banyak medali dan koin langka dari
Rotshchild dengan harga yang juga dibuat miring. Inilah kali pertamanya seorang
Rotshchild bertransaksi dengan seorang kepala negara.
Dari perkenalannya dengan Wilhelm, terbukalah akses Rothschild untuk membuat
jaringan dengan para pangeran lainnya. Untuk membuat pertemanan bisnis menjadi
pertemanan pribadi, Rotshchild menulis banyak surat kepada para pangeran yang
berisi puji-pujian dan penghormatan yang begitu tinggi atas kebangsawanan
mereka. Rothschild juga memohon agar mereka memberi perlindungan kepadanya.
Pada tanggal 21 September 1769, upayanya membuahkan hasil.
Pangeran Wilhelm dengan senang hati memberikan restu atas kedainya. Rothschild
pun memasang lambang principalitas Hess-Hanau di depan kedainya sebagai lambang
restu dan perlindungan Sang Pangeran. Lambang itu bertuliskan huruf emas dengan
kalimat, “M.A.Rothschild. Dengan limpahan karunia ditunjuk sebagai abdi istana
dari Yang Mulia Pangeran Wilhelm von Hanau.”
Tahun 1770, saat
berusia 27 tahun, Rothschild menikahi Guetele Schnaper yang masih berusia
tujuhbelas tahun. Dari perkimpoiannya, mereka dikarunia sepuluh orang anak.
Putera-puteranya bernama Amshell III, Salomon, Nathan, Karlmann (Karl) dan
Jacob (James). Kepada anak-anaknya, selain mendidik mereka dengan keras soal
pengetahuan bisnis perbankan dan aneka pengalamannya, Rothschild I juga
menanamkan kepada mereka keyakinan-keyakinan Talmudian (bukan Taurat) dengan
intensif.
Frederich Morton, penulis biografi Dinasti Rothschild menulis, “Setiap Sabtu
malam, usai kebaktian di sinagoga, Amshell mengundang seorang rabi ke rumahnya.
Sambil duduk membungkuk di kursi hijau, mencicipi anggur, mereka berbincang-bincang
sampai larut malam. Bahkan pada hari kerja pun Amshell sering terlihat mendaras
Talmud …dan seluruh keluarga harus duduk dan mendengarkan dengan tertib.”
Keluarga Rotschild merupakan keluarga Yahudi yang berpandangan Talmudian.
Mereka sangat percaya bahwa Tuhan, sesuai keyakinan dalam ayat-ayat Talmud,
telah memilih bangsa Yahudi sebagai manusia super, satu-satunya ras manusia,
sedangkan orang lain yang bukan Yahudi merupakan ras yang derajatnya sama dan
setara dengan hewan. Mereka sama sekali tidak perduli dengan orang lain, dan
hanya perduli dengan kepentingan sesama Yahudi Talmudian
Wilhelm von Hanau merupakan seorang kepala negara yang kaya raya dan
berpengaruh. Bisa jadi, bisnis utama Wilhelm yang memiliki sepasukan tentara
sewaan (bisnis ini juga berasal dari bisnis para Templar!) membuatnya disegani
tidak saja di Jerman tetapi juga di wilayah-wilayah sekitarnya. Wilhelm juga
memiliki kekerabatan dengan sejumlah keluarga kerajaan Eropa lainnya. Inggris
merupakan salah satu langganan setia dalam bisnis tentara sewaannya. Harap
maklum, daerah koloni Inggris di seberang lautan sangat luas dan banyak.
Dalam bisnis ini, Rothschild bertindak sebagai dealernya. Karena kerja
Rothschild begitu memuaskan, maka Wilhelm pernah memberinya hibah uang sebanyak
600.000 pound atau senilai tiga juta dollar AS dalam bentuk deposito. Dari
usahanya ini, Wilhelm memiliki banyak uang. Ketika meninggal, Wilhelm
meninggalkan warisan terbesar dalam rekor warisan raja Eropa yakni setara
dengan 200 juta dollar AS! (Maulani; 2002)
Sumber lainnya mengatakan bahwa uang sebesar tiga juta dollar AS itu sebenarnya
berasal dari pembayaran sewa tentara kerajaan Inggris kepada Wilhelm, namun
digelapkan oleh Rothschild (Jewish Encyclopedia, Vol. 10, h.494).
Dengan bermodalkan
uang haram inilah Rothschild membangun kerajaan bisnis perbankannya yang
pertama dan menjadi bankir internasional yang pertama. Sebenarnya, Rothschild I
ini tidak membangun kerajaannya sendiri. Beberapa tahun sebelumnya ia telah
mengirim anak bungsunya, Nathan Rothschild yang dianggap paling berbakat ke
Inggris untuk memimpin bisnis keluarga di wilayah tersebut. Di London Nathan
mendirikan sebuah bank dagang dan modalnya diberikan oleh Rothschild I sebesar
tiga juta dollar AS yang berasal dari uang haram itu.
Di London, Nathan Rothschild menginventasikan uang itu dalam bentuk emas-emas
batangan dari East India Company. Berasal dari uang haram, diputar dengan cara
yang penuh dengan tipu daya, memakai sistem ribawi yang juga haram, kian
berkembanglah bisnis keuangan keluarga Rothschild ke seluruh Eropa. Berdirilah
cabang-cabang perusahaan Rothschild di Berlin, Paris, Napoli, dan Vienna.
Rothschild I menempatkan setiap anaknya menjadi pemimpin usaha di
cabang-cabangnya itu. Karl di Napoli, Jacob di Paris, Salomon di Vienna, dan
Amshell III di Berlin. Kantor pusatnya tetap di London.
Rothschild I meninggal dunia pada 19 September 1812. Beberapa hari sebelum
mangkat, ia menulis sebuah surat wasiat yang antara lain berbunyi:
Hanya keturunan
laki-laki yang diperbolehkan berbisnis. Semua posisi kunci harus dipegang oleh
keluarga.
Anggota keluarga
hanya boleh mengawini saudara sepupu sekali (satu kakek) atau paling jauh
sepupu dua kali (satu paman). Dengan demikian harta kekayaan keluarga tidak
jatuh ke tangan orang lain. Awalnya aturan ini dipegang ketat, tapi ketika
banyak pengusaha Yahudi lainnya bermunculan sebagai pengusaha dunia, aturan ini
dikendurkan, walau demikian hanya boleh mengawini anggota-anggota terpilih.
Dinasti Rothschild tidak punya sahabat atau sekutu sejati. Baginya, sahabat
adalah mereka yang menguntungkan kantongnya. Jika tidak lagi menguntungkan maka
ia sudah menjadi bagian masa lalu dan dimasukkan ke dalam tong sampah. Pangeran
Wilhelm sendiri akhirnya dilupakan oleh Rothschild setelah ia berhasil menilep
uangnya. Ketika Inggris dan Perancis berperang dengan memblokade pantai lawan
masing-masing, hanya armada Rothschild yang bebas keluar masuk pelabuhan karena
Rothschild telah membiayai kedua pihak yang berperang tersebut.
Bank Sentral Inggris dan Utang Sebagai Alat
Penjajahan

Beberapa orang menyangka jika pendirian Bank of England, bank sentral pertama
di dunia, juga akibat campur tangan dari Dinasti Rothschild. Anggapan ini
sebenarnya tidak tepat karena Rothschild I sendiri baru lahir di Bavaria pada
tahun 1743, sedangkan Bank of England berdiri pada 27 Juli 1694.
Sebelum Dinasti Tameng Merah lahir, jaringan Luciferian yang terdiri dari
tokoh-tokoh Yahudi berpengaruh dunia yang dikenal dengan istilah “Para
Konspirator”, para pewaris Templar, Orde Militeris yang kaya raya, telah
mencanangkan untuk menguasai England yang menjadi Inggris sekarang dengan
strategi lidah ular: Pertama, merekayasa pernikahan keluarga raja Inggris
sehingga nantinya para Raja Inggris berdarah Yahudi, dan yang kedua lewat
provokasi perang melawan Perancis agar Inggris memerlukan uang yang banyak di
mana pihak Konspirasi akan memberi utang kepada Raja Inggris. Dengan utang,
diharapkan kerajaan besar itu akan takluk.
Inilah fakta sejarah jika jaringan Yahudi Dunia sejak dulu telah menggunakan
utang sebagai alat penakluk suatu negeri. Sekarang, Indonesia yang kaya raya,
juga telah ditaklukkan dan dijajah oleh utang. Para tokoh Neo-Liberal di negeri
ini yang gemar mengundang utang imperialis masuk ke negeri ini merupakan
pelayan-pelayan kepentingan Luciferian. Banyak orang yang mengaku Islam menjadi
pendukung kelompok Luciferian ini disebabkan mereka malas berpikir sehingga
mudah ditipu mentah-mentah.
Perjalanan para Konspirator dalam menaklukan Keraaan Inggris diawali dari suatu
pertemuan sejumlah petinggi Ordo Kabbalah di Belanda. Mereka menggelar
pertemuan dan sepakat untuk menguasai Tahta Kerajan Inggris sepenuhnya dengan
cara menurunkan Dinasti Stuart dan menggantikannya dengan seseorang yang mereka
bina dari Dinasti Hanover dari Istana Nassau, Bavaria.
Kala itu, Tahta Kerajaan Inggris tengah diduduki King Charles II (1660-1685).
Raja Inggris ini masih kerabat dekat Duke of York. Mary adalah anak sulung dari
Duke of York. Diam-diam, kelompok Konspirator mengatur strategi agar Mary yang
masih gadis itu bertemu dengan ‘Sang Pangeran’ bernama William II, salah
seorang pangeran kerajaan Belanda dan pemimpin pasukan kerajaan. Mary dan
William II pun bertemu dan saling tertarik. Pada tahun 1674 mereka menikah.
Tahun 1685 King Charles II meninggal dan digantikan oleh James II yang
memerintah sampai tahun 1688.
Dari hasil perkimpoian antara William II dan Mary, lahir seorang putera yang
kemudian dikenal sebagai William III, yang kemudian menikah dengan seorang
puteri dari King James II bernama Mary II. William III yang berdarah campuran
antara Dinasti Stuart dengan Dinasti Hanover ternyata menurut kelaziman tidak
bisa menjadi Raja Inggris disebabkan ia bukan berasal dari garis keturunan
laki-laki Inggris, melainkan dari garis perempuan. Mary II, isterinyalah, yang
lebih berhak menyandang gelar Queen.
Di sinilah para petinggi Yahudi melancarkan konspirasi dengan mengobarkan
‘Glorious Revolution’ dan akhirnya berkat Partai Whig yang melakukan kerjasama
diam-diam dengan tokoh-tokoh Yahudi dan Partai Tory yang bersikap pragmatis,
revolusi tanpa darah ini berhasil menaikkan William III sebagai Raja Inggris.
Beberapa tahun sebelumnya, lewat tangan Oliver Cromwell, kekuatan Yahudi juga
telah ‘menyikat’ King Charles I dan menguasai lembaga-lembaga keuangan di
kerajaan itu. Dengan berkuasanya William III maka Inilah awal hegemoni Dinasti
Hanover bertahta di Kerajaan Inggris sampai sekarang. Apalagi Dinasti Windsor
yang berkuasa di Kerajaan Inggris sekarang merupakan keturunan langsung dari
King Edward III (Prince of Wales) yang merupakan keturunan Hanover
Pada tahun 1689, Raja Inggris, King William III mendirikan Loyal Orange Order
yang begitu fanatik mendukung gerakan pembaruan Gereja yang dipimpin Martin
Luther. Ordo ini menyatakan dengan tegas akan menjadikan Inggris sebagai basis
bagi gerakan Protestan. Pernyataan ini memiliki pesan yang jelas terhadap
Gereja Katolik: “Kami akan melawanmu!”
Sejarah memang telah mencatat jika Gereja Katholik merupakan musuh bebuyutan
para Templar. Para Templar, dan juga para pewarisnya seperti kaum Mason dan
Rosikrusian, masih sangat ingat bagaimana Paus Clement IV berkomplot dengan
King Philip V dari Perancis pada Jumat, 13 Oktober 1307 menumpas dan membantai
Templar dari seluruh Eropa. Perlawanan dan penghancuran Gereja (Katolik Roma)
merupakan salah satu tujuan utama kelompok Luciferian ini yang berasal dari
dendam sejarah yang kesumat.

Loyal Orange Order sampai hari ini masih bertahan di Irlandia Utara dengan
jumlah anggota tak kurang dari angka 100 ribuan. Kelompok inilah yang
senantiasa mengobarkan api permusuhan terhadap kaum Katolik sehingga sampai
sekarang kehidupan masyarakat di sana tidak pernah sepi dari konflik
Protestan-Katolik.
King William III sendiri menceburkan diri dalam peperangan melawan Perancis
yang mayoritas Katolik. Inggris menderita kerugian yang banyak. Utang pun
menumpuk. Inilah awal berdirinya Bank of England sebagai bank sentral swasta
pertama di dunia, seperti yang telah disinggung di muka.
William G. Carr dalam bukunya “Yahudi Menggenggam Dunia” (Pustaka Alkautsar,
1991) mencatat kronologi perjalanan petualangan Oliver Cromwell sebagai kaki
tangan tokoh Yahudi-Inggris setelah kematian King Charles I pada 30 Januari
1649. Inilah kronologinya singkatnya:
1649, Cromwell menyerbu Irlandia dengan dukungan dana dari lobi Yahudi
internasional sehingga terjadi peperangan antara Inggris Protestan melawan
Irlandia Katolik.
1651, Charles II, putera King Charles I, memerangi Cromwell tapi gagal. Ia
dibuang ke Perancis.
1652, Inggris melibatkan diri berperang melawan Belanda.
1653, Cromwell mengangkat dirinya sebagai The Lord Defender of Great Britain.
1654, Inggris terlibat perang Eropa lagi.
1656, Amerika yang masih menjadi jajahan Inggris bergolak dan akhirnya menjadi
negara merdeka.
1657, Cromwell meninggal dunia. Puteranya, Richard, menjadi penguasa Inggris.
1659, Richard mengakhiri persekongkolan dengan Yahudi Internasional, ia
mengundurkan diri dari kekuasaan.
1660, Jenderal Monk dari angkatan bersenjata Inggris menduduki London. Charles
II diangkat menjadi raja Inggris.
1661, Skandal persekongkolan antara Cromwell dengan kubu Yahudi Internasional
terungkap. Warga London geger dan marah. Makam Cromwell dibongkar paksa.
1662, Gereja resmi Inggris, Anglikan, menindas umat Protestan.
1664, Inggris kembali berperang melawan Belanda.
1665, Krisis ekonomi melanda Inggris. Pengangguran dan kelaparan merebak. Di
tahun itu juga terjadi kebakaran besar yang menghanguskan sebagian kota London,
disusul wabah penyakit lepra.
1666, Inggris terlibat perang dengan Belanda dan Perancis.
1667, Ordo Kabbalah yang secara rahasia masih eksis di Inggris melancarkan
gerakan sabotase ke kalangan elit pemerintahan. Sejarah Inggris mengenalnya
sebagai gerakan Kabal. Akibatnya muncul gelombang baru penindasan agama dan
politik di Inggris.
1674, Setelah menggelar pertemuan internal di Belanda, Kelompok Yahudi
Internasional sepakat menguasai Kerajaan Inggris sepenuhnya dengan melengserkan
King Charles II dan menaikkan seseorang yang bisa dikendalikan. Pada tulisan di
muka hal ini telah disinggung, yakni penobatan King William III yang masih
berdarah Dinasti Hanover.
1683, Konspirasi berupaya membunuh King Charles II dan Duke of York tapi gagal.
1685, King Charles II meninggal dunia. Duke of York yang beragama Katolik naik
tahta dengan gelar King James II. Konspirasi menyebarkan desas-desus untuk
menentang raja baru itu. Rakyat banyak yang termakan isu ini. Akibatnya banyak
rakyat yang ditangkap pihak kerajaan. Nama King James II menjadi tidak popular
di mata rakyat.
1688, setelah King James II sudah tidak lagi mendapat dukungan rakyatnya,
Konspirasi Yahudi Internasional memprovokasi pangeran William of Orange dari
Belanda untuk menyerbu Inggris, dengan dukungan kapal-kapal perangnya menuju
pantai Inggris. King James II akhirnya turun tahta dan kabur ke Perancis.
1689, William of Orange atau William III dan Queen of Mary –keduanya
Protestan—mengukuhkan diri sebagai Raja dan Ratu Inggris. Sementara itu James
II kabur lagi ke Irlandia, sebuah wilayah Katolik. Pasukan Inggris sendiri
terpecah antara yang Protestan dengan yang Katolik. Yang Protestan mendukung
William III sedang yang Katolik berupaya mengembalikan James II ke tahtanya.
Perang saudara pun tak terelakkan pada 12 Juli 1689.
Sampai sekarang, rakyat Inggris masih mengenang peristiwa tersebut tanpa banyak
yang menyadari bahwa perang saudara itu sesungguhnya sengaja dibuat oleh
Konspirasi Yahudi Internasional, untuk menguasai perekonomian negara besar
Eropa itu. Hasilnya, berdirilah Bank of England, bank sentral swasta pertama di
dunia (1694), yang dimiliki Konspirasi Yahudi tersebut.
Inggris terus dibuat untuk berperang, sehingga kas kerajaan terkuras dan hutang
bertambah banyak. Jerat yang dipasang para pemilik modal Yahudi kini telah mengikat
mangsanya. Kian lama kian kuat, mencekik. Inggris pun jatuh ke dalam kekuasaan
mereka hanya dengan modal awal £1.250.000!
Dari Inggris Mendirikan AS
Setelah menaklukkan kerajaan Inggris, pihak Konspirasi Yahudi Internasional
kini mengarahkan wajahnya ke sebuah benua baru yang masih menjadi koloni
Inggris di seberang Samudera Atlantik: Amerika. Jauh-jauh hari sebenarnya
mereka telah mempersiapkan hal ini lewat salah seorang agennya bernama
Christopher Colombus. Orang ini merupakan anggota Knights of Christ, pelaian
Templar yang mukim di Italia, Portugis, dan Spanyol. Semasa remajanya, Colombus
malah menjadi orang kepercayaan Rene de Anjou, Grand Master Persaudaraan di
Italia.
Demikianlah, Amerika Serikat memang dipersiapkan jauh-jauh hari sebagai The Second
Promise Land, selain Yerusalem, bagi bangsa Yahudi. Nama lain kota New York
saja adalah The New Jerusalem. Pada 4 Juli 1776, tokoh-tokoh Mason Amerika
menandatangani Declaration of Independence. Berdirilah satu negara Masonik yang
dipersiapkan sebagai The Headquarter, markas besar, gerakan Ordo Kabbalah dalam
menaklukkan dunia kelak, menuju tatanan dunia baru yang sepenuhnya sekular.
Suatu cita-cita Masonik yang ditorehkan pada lambang negara AS: Novus Ordo
Seclorum.

Tidak seperti sekarang, Eropa waktu itu merupakan sebuah benua yang terbagi
dalam banyak kerajaan besar kecil, serta sejumlah wilayah kecil otonom
(Principalis), semacam kabupaten yang merdeka, seperti Monaco dan Lechtenstein.
Saat itu Inggris dan Perancis merupakan dua negara kerajaan yang paling
berpengaruh.
Setelah Inggris berhasil dikuasai dan para tokoh Mason Amerika berhasil
memproklamirkan kemerdekaan negara itu, maka Konspirasi Yahudi Internasional
berusaha untuk menaklukkan Perancis. Baron Rothschild merupakan salah satu tokoh
sentral dalam Konspirasi Yahudi Internasional untuk menaklukkan Perancis.

Tahun 1773, Baron Rothschild dan 12 tokoh Yahudi lainnya berkumpul di
kediamannya di Bavaria. Mereka membahas berbagai perkembangan Eropa terakhir,
termasuk mengevaluasi hasil-hasil upaya Konspirasi di Inggris. Dalam pertemuan
inilah, nama Adam Weishaupt disebut oleh Rothschild sebagai seseorang yang bisa
dipercaya untuk menjalankan tugas dari Konspirasi.
Dalam pertemuan itu, Baron Mayer juga membacakan 25 butir strategi penguasaan
dunia yang kelak dalam Kongres Zionis Internasional I di Basel-Swiss tahun 1897
disahkan dengan nama Protocolat Zionis.
Baron Mayer atau Rothschild I juga mengatakan jika Konspirasi dianggap terlalu
lamban dalam melakukan program yang direncanakan untuk Inggris, akibatnya
penguasaan Inggris secara total terhambat oleh hal-hal kecil. Namun hal-hal
kecil ini bisa dianggap tidak berpengaruh besar bagi upaya penguasaan oleh
Konspirasi. Walau demikian, hal-hal kecil ini dianggap tidak boleh dibiarkan.
Beberapa kelompok berpengaruh di Inggris ada yang masih mampu bertahan
menghadapi Konspirasi.
Rothschild segera memerintahkan agar pelaksanaan program dipercepat dan
menyingkirkan oposisi secepatnya dengan segala cara yang bisa diambil. Jika
perlu, segenap lapisan masyarakat Inggris harus dikuasai dengan jalan teror
atau kekerasan.
Dalam pertemuan itu, Rothschild juga menekankan kepada para undangan bahwa
apa-apa yang telah dihasilkan di Inggris sesungguhnya bukanlah apa-apa jika
dibandingkan dengan apa yang akan mereka perbuat atas Perancis. Skema besar
untuk meletupkan Revolusi Perancis pun di bahas dengan serius.
Ini merupakan satu mata rantai dari sejumlah pertemuan para Konspiran untuk
menggodok Revolusi Perancis. Dalam pertemuan di Frankfurt ini, agenda yang
telah dirancang dipermatang dan upaya penggalangan dana pun di mulai dari
‘markas’ Rothschild tersebut.
Menurut penilaian sosiologis dan psikologi massa yang dilakukan Konspirasi,
situasi yang tengah dihadapi Perancis saat itu memang menggambarkan dengan baik
apa yang sebenarnya tengah terjadi di Eropa: perekonomian tengah lesu, utang
menumpuk, pengangguran di mana-mana, lapangan pekerjaan nyaris tidak bergerak,
sektor industri macet, dan bencana kelaparan di ambang pintu.
Jurang kesenjangan ekonomi yang terjadi antara buruh dan rakyat kebanyakan
dengan para bangsawan, pemilik modal, dan raja-raja demikian besar dan dalam.
Menurut teori revolusi, dalam kondisi demikian buruk, massa rakyat telah siap
untuk menyambut siapa pun yang tampil secara meyakinkan untuk menciptakan
kehidupan yang lebih baik. Massa rakyat telah menjadi semacam tumpukan jerami
kering yang hanya dengan percikan api sedikit saja akan bisa terbakar dan
meluas dengan sangat cepat. Kondisi di Perancis merupakan yang terparah.
Di tengah kondisi demikian, lewat corong media yang dikuasainya, Konspirasi
meniupkan aneka slogan yang muluk-muluk dan melemparkan semua kesalahan kepada
penguasa dan orang-orang kaya, sehingga rakyat Perancis kian membenci mereka.
Kehancuran dan kerusuhan tinggal menunggu hitungan hari. Sebuah rencana besar
siap digelindingkan oleh Konspirasi.
Salah satu rumus baku dalam gerakan massa adalah: menjelek-jelekkan masa
sekarang, di saat bersamaan mengingatkan massa (rakyat) akan kegemilangan masa
lampau dan meyakinkan massa rakyat bahwa masa depan akan bisa menjadi lebih
gemilang, mengulangi masa-masa keemasan di zaman silam, jika massa mau dan siap
bergerak menumbangkan status-quo. Ini berlaku di mana saja.
Untuk menyatukan langkah gerakan massa, Konspirasi menciptakan tiga slogan
gerakan: Liberté, Egalité, dan Fraternité (Kemerdekaan, Persamaan, dan
Persaudaraan). Sebuah slogan yang mampu membius massa rakyat Perancis sehingga
rela mengorbankan apa saja demi memenuhinya. Slogan ini secara terus-menerus
diperdengarkan ke telinga rakyat Perancis sehingga setiap orang Perancis saat
itu sangat hapal dengan tiga istilah di atas saat itu, bahkan kemudian dunia
juga hafal.
Walau terdengar sangat indah, namun tiga istilah di atas bagi Konspirasi Yahudi
Internasional memiliki arti yang sama sekali beda. Bagi kelompok ini, Liberté
sesungguhnya berarti Kemerdekaan bagi mereka, kebebasan bagi mereka, bagi para
pemilik modal, untuk berbuat apa saja terhadap Perancis.
Egalité yang sesungguhnya bermakna Persamaan, bagi Konspirasi diartikan sebagai
persamaan di kalangan mereka untuk bisa bersama-sama, gotong royong, di dalam
usahanya menguasai perekonomian Perancis.
Sedangkan Fraternité memiliki arti sebagai Persaudaraan antara kelompok mereka
sendiri, di mana di dalam setiap usahanya, mereka harus saling tolong-menolong,
bantu-membantu, agar kepentingan kelompok mereka bisa dicapai. Inilah hakikat
tiga slogan Revolusi Perancis. Jadi Persaudaraan hanya terbatas pada
kelompoknya saja.

Pada 14 Juli 1789, massa rakyat berbondong-bondong menuju penjara Bastille,
perancis. Penjara yang bagaikan benteng itu dibakar. Para narapidana melarikan
diri dan menimbulkan kerusuhan dan perampokan di mana-mana. Penyerbuan ke
penjara benteng Bastille ini menandai di mulainya Revolusi Perancis. Hari demi
hari berjalan dengan perkmebangan yang tidak bisa diduga. King Louis XVI dan
Marie Antoinette ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Tidak lama kemudian
keduanya dihukum mati, dipancung di atas Guilotin.

Mirabeau yang awalnya didukung Konspirasi, kini malah diburu. Dia sebenarnya
seorang yang cerdas, dan menjadi curiga dan dengan cepat ia menyadari akan
bahaya yang mengancam dirinya. Namun Mirabeau terlambat, mesin propaganda
Konspirasi telah bekerja begitu cepat dan efektif melancarkan fitnah
terhadapnya.
Gagal menyeret Mirabeau ke pengadilan, akhirnya pihak Konspirasi meracuni
Mirabeau hingga tokoh ini menemui ajal. Jenazah Mirabeau diatur sedemikian rupa
untuk mengesankan dia bunuh diri. Sejumlah selebaran dan berita-berita yang
mendukung ‘bunuh diri’ Mirabeau ini dicetak dan disebarluaskan ke Eropa.
Kematian Mirabeau kemudian diikuti dengan berkuasanya pemerintahan teror di
Perancis. Pada masa ini, tiap hari rakyat Perancis menyaksikan ribuan orang
tiap hari digiring menuju pisau Guilotin. Roberspierre dan Danton ditugaskan
Konspirasi untuk menjadi algojonya. Setelah dianggap menyelesaikan tugasnya,
kedua orang ini, Roberspierre dan Danton pun dibunuh dengan keji. Pemerintahan
teror mencapai puncaknya antara tanggal 27 April hingga 27 Juli 1794.
Satu hari sebelum Roberspierre diseret ke tempat hukuman mati, di depan Majelis
Nasional, Roberspierre sempat menyampaikan orasi yang menyerang Konspirasi dan
membuka tirai mereka dengan mengatakan ada sebuah organisasi rahasia yang
bekerja dan menjadi dalang Revolusi Perancis. Roberspierre dengan tegas
mengatakan, “Aku tidak berani menyebut nama mereka di tempat ini dan disaat ini
pula. Aku juga tidak bisa membuka tirai yang menutupi kelompok ini sejak awal
terjadinya peristiwa revolusi. Akan tetapi, aku bisa meyakinkan Anda sekalian,
dan aku percaya sepenuhnya, bahwa di antara penggerak revolusi ini ada kaki
tangan yang diperalat dan melakukan kegiatan amoral dan penyuapan
besar-besaran. Kedua sarana itu merupakan taktik yang paling efektif untuk menghancurkan
negeri kita yang kita cintai ini…”

Roberspierre, seorang Mason yang diberi
kesempatan lebih untuk mengetahui lebih banyak dari yang seharusnya, ternyata
dinilai 13 petinggi Konspirasi Yahudi Internasional telah bertindak melampaui
batas. Mereka menetapkan jika Roberspierre harus mati. Maka dalam waktu dekat,
Roberspierre pun diseret ke tempat hukuman mati dengan tuduhan yang
dibuat-buat.
Sejarah mencatat bahwa di tengah kondisi Perancis yang porak-poranda dan
berkecamuknya kerusuhan serta situasi yang tidak menentu, muncullah Napoleon
Bonaparte yang penuh kharismatik lewat sebuah kudeta. Sebagai seorang pemimpin
militer, Napoleon meyakini kerusuhan di dalam negeri harus diakhiri. Caranya
adalah dengan menciptakan satu musuh dari luar yang mampu menjadi musuh bersama
bagi rakyat Perancis (The Common Enemy). Ide besar Napoleon ini didukung oleh
Konspirasi

Naiknya Napoleon dalam peta politik Perancis didukung sepenuhnya oleh
Konspirasi. Demikian pula dengan tumbangnya Napoleon yang juga dimanfaatkan
oleh Konspirasi. Bagi Konspirasi Yahudi Internasional, kesetiaan pada
kepentingan adalah yang utama, bukan kepada personal.
Salah satu peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan Eropa, terutama bagi
Inggris dan Perancis adalah Palagan Waterloo, yang yang terjadi pada tanggal 18
Juni 1815 di sebuah wilayah yang kini berada di Belgia, antar pasukan Napoleon
Bonaparte melawan pasukan Eropa yang dipimpin Panglima Perang Kerajaan Inggris,
Wellington.

Hasil dari pertempuran besar ini akan sangat berpengaruh pada Eropa di masa
depan. Jika Napoleon keluar sebagai pemenang, maka Perancis akan menjadi tuan
atas seluruh daratan Eropa. Namun jika Napoleon bisa dikalahkan maka Inggris
akan menjadi penguasa keuangan Eropa yang tak kan tergoyahkan.
Ketika dua kekuatan saling berhadapan di medan perang, pasar bursa saham di
London benar-benar seperti orang yang sedang demam, panas dingin dengan
keringat yang terus keluar, menantikan hasil akhirnya. Betapa tidak, jika
Grande Armee de France Napoleon Bonaparte menang maka bisa dipastikan
perekonomian Inggris akan hancur. Namun jika Wellington menang, perekonomian
negara itu akan melonjak drastis, meroket ke puncak kejayaan dengan menguasai
Perancis.
Hal ini diketahui Nathan Rothschild dan segera mengumpulkan agen-agen
terbaiknya dan mengirim mereka ke Waterloo untuk mengumpulkan informasi
seakurat mungkin. Agen-agen tambahan ditempatkan di beberapa pos komando yang
mampu bergerak cepat kapan saja untuk memberi bantuan, dukungan, maupun
segi-segi teknis lainnya.
Tanggal 15 Juni 1815, tiga hari sebelum D-Day, seorang agen kepercayaan
Rothschild dengan langkah tergesa menaiki sebuah perahu cepat melalui Selat
Channel menuju Pantai Dover di Inggris. Orang itu membawa laporan intelijen
dari agen-agen Rothschild di lapangan terkait perkembangan terakhir di
lapangan. Agen khusus itu tiba di Folkstone dini hari dan dijemput oleh
Rothschild pribadi. Dengan cepat dan seksama Rothschild membaca seluruh isi
laporan tersebut dan langsung bergegas ke pasar bursa London. Di pasar bursa
itu Rothschild sudah menaruh banyak agennya yang telah siap diperintah kapan
pun.
Dengan wajah dingin dan kaku seperti biasanya, Nathan Rothschild memasuki
gerbang pasar bursa. Seperti biasa, ia berdiri di dekat ‘Pilar Rothschild’
kesukaannya. Agen-agen Rothschild yang sudah berada di pasar bursa sejak
beberapa hari lalu, dengan wajah yang juga dingin menunggu isyarat dari bosnya.
Entah isyarat apa yang diberikan Rothschild, tiba-tiba saja orang-orang
Rothschild ini mulai menumpahkan surat-surat berharga senilai ratusan ribu
dollar ke pasar. Begitu kertas-kertas berharga ini dilempar ke pasar dalam
jumlah besar, nilainya dengan cepat merosot tajam.
Nathan tetap diam di pilarnya. Ia terus menjual, dan menjual. Nilai
kertas-kertas berharga ambruk tidak tertolong. Pialang-pialang lain mulai
gelisah melihat sikap Rothschild yang begitu berani melepas semua
saham-sahamnya tanpa ampun bagai membuang kertas-kertas yang tidak ada harganya
sama sekali. Mereka mulai berspekulasi, bisik-bisik mulai menyebar di antara
mereka. Pasar bursa London berdengung bagai suara lebah, “Rothschild sudah
tahu! Rothschild sudah tahu! Wellington kalah di Waterloo! Napoleon menang!”
Kepanikan meletus di lantai bursa. Semua pialang mengikuti ulah Rothschild,
menumpahkan kertas-kertas berharganya ke pasar tanpa peduli menjadi berapa pun
harganya. Tak hanya uang, logam mulia seperti emas dan perak pun dilepas dengan
harga obral besar. Hanya satu harapan mereka: berupaya sekuat tenaga
mempertahankan kekayaan yang masih tersisa di tangannya. Semuanya terus menukik
tajam. Kertas-kertas berharga berserakan di lantai bursa bagaikan gunungan
sampah.
Setelah semua harga saham jatuh, dengan wajah tetap dingin, Nathan memberi
isyarat lain kepada para agennya. Bandul mulai bergerak berlawanan. Dengan
sangat cepat, para agen Rothschild yang tadinya melepas sahamnya, sekarang
melesat ke tiap meja yang ada dan memborong seluruh kertas berharga yang
teronggok di atas meja dan bertebaran di lantai.
Kepanikan telah menyebabkan banyak pialang dan pengusaha tidak lagi bisa
berpikir jernih. Mereka tidak lagi melihat perubahan sikap dari Rothschild.
Dalam hitungan menit, semua saham, kertas berharga, emas, perak, dan sebagainya
kini telah jatuh ke tangan satu orang: Rothschild. Dia menjadi penguasa tunggal
dengan modal yang tidak seberapa.
Beberapa hari kemudian berita yang sesungguhnya tentang Palagan Waterloo tiba
di London. Wellington menang! Wellington menang! Harga saham, kertas berharga,
dan sebagainya yang tadinya begitu murah, dengan cepat melesat meninggi.
Kekayaan Rothschild dalam waktu hanya semalam menjadi berlipat-lipat jumlahnya.
Tak kurang dari duapuluh kali lipat! Rakyat kebanyakan meloncat-loncat
kegirangan di jalanan. Sedang para pengusaha banyak yang merasakan mati sebelum
waktunya. Mereka kini telah menjadi budak dari Tuan Rothschild, sang penguasa
Inggris dan Eropa yang sesungguhnya. Perekonomian Inggris jatuh ke bawah sepatu
Nathan Rothschild pada tahun 1815. Tiga tahun kemudian Perancis menyusul
Inggris dan jatuh ke bawah sepatu yang sama.
Frederich Morton, penulis Biografi Dinasti Rothschild menulis, jika dahulu
mereka sangat terbuka dalam berbisnis dan menjadi pusat pemberitaan selebritis
dunia, maka kini hal itu tidak lagi menjadi kebiasaan keluarga kaya raya
tersebut. “Setelah itu mereka menyelimuti kehadirannya dengan kesenyapan, tak
terdengar dan tak terlihat…” Menurut Morton, hal ini dilakukan sebagai strategi
baru keluarga ini untuk tetap eksis dalam tujuan utamanya memonopoli dunia,
menciptakan The New World Order.
Rothschild dan Pendirian Federal Reserve


Ketika Amerika masih terbagi dalam 13 koloni Inggris, Benjamin Franklin
mengunjungi London dan menemui sejumlah pemodal Yahudi berpengaruh di sana.
Dalam pertemuan yang dicatat dalam Dokumen Senat Amerika halaman 98 butir 33,
yang ditulis Robert L. Owen, mantan kepala komisi bank dan keuangan Kongres AS,
dilaporkan bahwa wakil-wakil perusahaan Rothschild di London menanyakan kepada
Benjamin Franklin hal-hal apa saja yang bisa membuat perekonomian koloni Inggris
di seberang lautan itu bisa maju.
Franklin yang masih tercatat sebagai anggota Freemasonry Inggris menjawab,
“Masalah itu tidak sulit. Kita akan mencetak mata uang kita sendiri, sesuai
dengan kebutuhan yang diperlukan oleh industri yang kita miliki.”
Insting bisnis Rothschild segera bekerja. Ini merupakan satu kesempatan besar
untuk menangguk untung di koloni Inggris ini. Namun sebagai langkah awal, hak
untuk mencetak uang sendiri bagi koloni di seberang lautan tersebut masih
dilarang oleh Inggris sampai waktu yang ditentukan. Namun persiapan ke arah itu
sudah dijalankan. Inggris saat itu memang sudah jatuh dalam pelukan Konspirasi.
Amschell Mayer Rothschild sendiri saat itu masih sibuk di Jerman mengurus
bisnisnya, yang salah satu cabang usahanya adalah mengorganisir tentara bayaran
(The Mercenaries) Jerman bagi Inggris untuk menjaga koloni-koloni Inggris yang
sangat luas. Usulan mencetak mata uang sendiri bagi Amerika, lepas dari sistem
mata uang Inggris, akhirnya tiba di hadapan Rothschild.
Setelah memperhitungkan segala laba yang akan bisa diperoleh, demikian pula
dengan penguasaan politisnya, maka Rothschild akhirnya menganggukkan kepalanya.
Dengan cepat lahirlah sebuah undang-undang yang memberi hak kepada pemerintah
Inggris di koloni Amerika untuk mencetak mata uangnya sendiri bagi kepentingan
koloninya tersebut. Seluruh asset koloni Amerika pun dikeluarkan dari Bank
Sentral Inggris, sebagai pengembalian deposito sekaligus dengan bunganya yang
dibayar dengan mata uang yang baru. Hal ini menimbulkan harapan baru di koloni
Amerika. Tapi benarkah demikian?
Dalam jangka waktu setahun ternyata Bank
Sentral Inggris—lewat pengaruh pemodal Yahudi—menolak menerima pembayaran lebih
dari 50% dari nilai mata uang Amerika, padahal ini dijamin oleh undang-undang
yang baru. Dengan sendirinya, nilai tukar mata uang Amerika pun anjlok hingga
setengahnya. “…Masa-masa makmur telah berakhir, dan berubah menjadi krisis
ekonomi yang parah. Jalan-jalan di seluruh koloni tersebut kini tidak lagi
aman,” demikian paparan Benjamin Franklin yang tercatat dalam Dokumen Kongres
AS nomor 23.
Belum cukup dengan itu, pemerintah pusat Inggris memberlakukan pajak tambahan
kepada koloninya tersebut yakni yang dikenal sebagai Pajak Teh. Keadaan di
koloni Amerika bertambah buruk. Kelaparan dan kekacauan terjadi di mana-mana.
Ketidakpuasan rakyat berbaur dengan ambisi sejumlah politikus. Situasi makin
genting. Dan tangan-tangan yang tak terlihat semakin memanaskan situasi ini
untuk mengobarkan apa yang telah terjadi sebelumnya di Inggris dan Perancis:
Revolusi.
Dalam sejarah dunia, revolusi merupakan hal yang dibutuhkan tokoh-tokoh dalam
bayangan gelap untuk menguasai suatu negara atau suatu wilayah dengan cepat.
Tak perduli berapa juta rakyat menjadi korbannya.
Sejarah mencatat, bentrokkan bersenjata antara pasukan Inggris melawan pejuang
kemerdekaan Amerika Serikat terjadi pada 19 April 1775. Jenderal George
Washington diangkat menjadi pimpinan kaum revolusioner. Selama revolusi
berlangsung, Konspirasi Yahudi Internasional seperti biasa bermain di kedua
belah pihak. Yang satu mendukung Inggris, memberikan utang dan senjata untuk
memadamkan ‘pemberontakan kaum revolusioner’, sedang yang lain mendukung kaum
revolusioner dengan uang dan juga senjata. Tangan-tangan Konspirasi menyebabkan
Inggris kalah dan pada 4 Juli 1776, sejumlah tokoh Amerika Serikat
mendeklarasikan kemerdekaannya.
Merdeka secara politis ternyata tidak menjamin kemerdekaan penuh secara
ekonomis. Kaum pemodal Yahudi dari Inggris masih saja merecoki pemerintahan
yang baru saja terbentuk. Rothschild dan seluruh jaringannya tanpa lelah terus
menyusupkan agen-agennya ke dalam tubuh Kongres. Dua orang agen mereka,
Alexander Hamilton dan Robert Morris pada tahun 1783 berhasil mendirikan Bank
Amerika (bukan bank sentral), sebagai ‘wakil’ dari Bank Sentral Inggris.
Melihat gelagat yang kurang baik, Kongres membatalkan wewenang Bank Amerika
untuk mencetak uang. Pertarungan secara diam-diam ini berlangsung amat panas.
Antara kelompok pemodal Yahudi dengan sejumlah tokoh Amerika, yang herannya
banyak pula yang merupakan anggota Freemasonry, untuk menguasai perekonomian
negara yang baru ini.
Thomas Jefferson menulis surat kepada John Quincy Adams, “Saya yakin sepenuhnya
bahwa lembaga-lembaga keuangan ini lebih berbahaya bagi kemerdekaan kita
daripada serbuan pasukan musuh. Lembaga keuangan itu juga telah melahirkan
sekelompok aristokrat kaya yang kekuasaannya mengancam pemerintah. Menurut
hemat saya, kita wajib meninjau hak mencetak mata uang bagi lembaga keuangan
ini dan mengembalikan wewenang itu kepada rakyat Amerika sebagai pihak yang
paling berhak.”
Mengetahui surat ini, para pemodal Yahudi amat marah. Nathan Rothschild secara
pribadi mengancam Presiden Andrew Jackson akan menciptakan kondisi Amerika yang
lebih parah dan krisis berkepanjangan. Tapi Presiden Jackson tidak gentar.
“Anda sekalian tidak lain adalah kawanan perampok dan ular. Kami akan
menghancurkan kalian, dan bersumpah akan menghancurkan kalian semua!”
Pemodal Yahudi benar-benar marah sehingga mendesak Inggris agar menyerbu
Amerika dan terjadilah perang lagi pada tahun 1816.
William Guy Carr telah merinci kejadian demi kejadian ini dengan sangat bagus.
Presiden Abraham Lincoln sendiri pada malam tanggal 14 April 1865 dibunuh oleh
seorang Yahudi bernama John Dickles Booth. Konspirasi memerintahkan pembunuhan
ini karena mengetahui bahwa Presiden Lincoln akan segera mengeluarkan sebuah
undang-undang yang akan menyingkirkan hegemoni Konspirasi terhadap Amerika. Si
pembunuh Lincoln, Dickles Booth, berhubungan dengan Yahuda B. Benjamin, seorang
agen Rothschild di Amerika. Booth sendiri tertangkap dan dihukum, sedangkan
pihak Konspirasi tetap aman.
Bagi yang tertarik mendalami masa-masa awal
berdirinya negara Amerika Serikat, pertarungan antara pihak Kongres-Nasionalis
dengan para pemodal Yahudi Internasional dalam menguasai perekonomian AS hingga
The Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika berdiri, yang lucunya dimiliki
oleh swasta bukan pemerintah, bisa membaca buku William Guy Carr yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Alkautsar
berjudul “Yahudi Menggenggam Dunia”, sebuah buku lagi yang juga saya
rekomendasikan adalah The Creature From Jekyll Island: A Second Look at the
Federal Reserve (American Opinion Publishing, Inc; 1994) karya Edward Griffin,
yang edisi Indonesianya telah diterbitkan oleh Esok Press dengan judul “Serial
The Fed 1: Monster dari Jekyll Island, Sebuah Studi Mendalam Tentang The
Federal Reserve” yang didistribusikan oleh LSM PaRaM.
Dalam kedua buku tersebut, kita akan bisa memahami bahwa sesungguhnya bangsa
Amerika sekarang ini telah menjadi kuda tunggangan, sedang dijajah, oleh satu
kekuatan bayangan yang disebut Konspirasi Yahudi Internasional. Bahkan kita
akan mendapat kesimpulan yang kuat dan mengagetkan: Negara Amerika Serikat
serta seluruh warganegara dan asset-asetnya sebenarnya milik dari The Federal
Reserve.
Dalam salah satu kertas presentasinya, seorang profesor Amerika dengan nama
samaran “Aristoteles”, menguraikan sebab-sebab kebangkrutan pemerintah Amerika
Serikat berjudul “U.S Government Bankruptcy Proceedings”. Walau hanya berisi
pokok-pokok peristiwa, namun makalah tersebut sangat penting untuk diketahui.
Inilah salinannya:
Sebelum tahun 1913, pemerintah Amerika memperoleh dana dari tarif impor. Pada saat
itu belum ada pajak dikenakan pada warganegara. Mata uang Amerika dibuat dari
logam asli atau yang bisa dihargai/dikembalikan sebagai logam—dikenal sebagai
“uang asli”.
Pada tahun 1913 para bankers memutuskan bahwa telah terjadi kekurangan mata
uang di Amerika dan pemerintah Amerika tidak bisa menerbitkan mata uang lagi
karena semua emas cadangannya telah terpakai.
Agar ada sirkulasi tambahan uang, kelompok orang mendirikan satu bank yang
dinamakan “The Federal Reserve Bank of New York”.
Kemudian Federal Reserve Bank di New York menjual stock yang dimiliki dan
dibeli oleh mereka sendiri senilai US$ 450.000.000 melalui bank-bank sebagai
berikut: Rothschild Bank of London, Rothschild Bank of Berlin, Warburg Bank of
Hamburg, Warburg Bank of Amsterdam (Keluarga Warburg mengontrol German
Reichsbank bersama Keluarga Rothschild), Israel Moses Seif Bank of Italy,
Lazard Brothers of Paris, Citibank, Goldman & Sach of New York, Lehman
& Brothers of New York, Chase Manhattan Bank of New York, dan Kuhn &
Loeb Bank of New York.
Karena bank-bank tersebut mempunyai cadangan emas yang besar, maka bank
tersebut dapat mengeluarkan mata uang yang dengan jaminan emas tersebut dan
mata uang tersebut disebut “Federal Reserve Notes”. Bentuknya sama dengan mata
uang Amerika dan masing-masing dapat saling tukar.
Untuk membayar bunga, pemerintah Amerika menciptakan pajak. Jadi sebenarnya
warganegara Amerika membayar bunga kepada Federal Reserve. Pajak ini dimulai
tahun 1913, pada tahun yang sama Federal Reserve Bank didirikan. Seluruh pajak
yang terkumpul dibayarkan ke Federal Reserve sebagai bunga atas pinjaman.
Awal tahun 1929, Federal Reserve berhenti menerima uang emas sebagai bayaran.
Yang berlaku hanya ‘uang resmi’. Federal Reserve mulai menarik uang kertas yang
dijamin emas dari sirkulasi dan menggantinya dengan ‘uang resmi’.
Sebelum tahun 1929 berakhir, ekonomi Amerika mengalami malapetaka (dikenal
dengan masa ‘Great Depression’).
Tahun 1931, Presiden Amerika Hoover mengumumkan kekuarangan budjet sebesar US$
902.000.000.
Tahun 1932 Amerika menjual emas senilai US$ 750.000.000 yang digunakan untuk
menjamin mata uang Amerika. Ini sama dengan ‘penjualan likuidasi’ sebuah
perusahaan bermasalah. Emas yang dijual ini dibeli dengan potongan (discount
rates) oleh bank internsional/bank asing (persis keadaannya seperti di
Indonesia sekarang ini), dan pembelinya adalah pemilik Federal Reserve di New
York.
Presiden Roosevelt mengalahkan Presiden Hoover di tahun 1932. Dalam sambutannya
ia mengatakan, “Satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah ketakutan itu
sendiri.” Roosevelt melakukan serangkaian keputusan untuk melakukan
reorganisasi pemerintahan Amerika sebagai suatu perusahaan. Perusahaan ini
kemudian mengalami kebangkrutan. Amerika bangkrut karena tidak bisa membayar bunganya
akibat berhutang kepada Federal Reserve. Akibat bangkrutnya Amerika, maka
bank-bank yang merupakan pemilik Federal Reserve sekarang memiliki SELURUH
Amerika, termasuk warganegaranya dan asset-assetnya. Negara Amerika bentuknya
adalah anak perusahaan Federal Reserve
Federal Reserve telah membangkrutkan seluruh asset Amerika Serikat. Seminggu
kemudian, di Parlemen, dilakukan tuntutan impeachment terhadap anggota-anggota
dari Dewan Federal Reserve, kebanyakan agen-agen Federal Reserve dan para
manajer dari Departemen Keuangan Amerika dengan tuduhan “kejahatan luar biasa
dan penyalahgunaan wewenang”, termasuk pencurian lebih dari US$ 80.000.000.000
pertahun selama lima tahun (total US$ 400.000.000.000!)

Tahun 1934 Roosevelt memerintahkan seluruh bank di Amerika untuk tutup selama
satu minggu dan menarik dari masyarakat emas dan mata uang yang diback-up emas
dan menggantinya dengan “seolah-olah uang” yang dicetak Federal Reserve. Tahun
itu dikenang sebagai ‘Liburan Bank Nasional’.
Rakyat mulai menahan emasnya karena mereka tidak mau menggunakan kertas tak
bernilai “seolah-olah uang”. Karena itu Roosevelt pada tahun 1934 mengeluarkan
perintah bahwa setiap warganegara dilarang memiliki emas, karena illegal. Para
hamba hukum mulai melakukan penyelisikan pada orang-orang yang memiliki emas,
dan segera menyitanya jika ditemukan. (Catatan: Pada saat itu rakyat yang
ketakutan berbondong-bondong menukar emasnya dengan sertifikat/bond bertuliskan
I.O.U yang ditandatangani oleh Morgenthau, Menteri Keuangan Amerika). Hal ini
merupakan perampokan emas besar-besaran yang terjadi dalam sejarah umat
manusia. Tahun 1976 Presiden Carter mencabut aturan ini.
Tahun 1963 Presiden Kennedy memerintahkan Departemen Keuangan Amerika untuk
mencetak uang logam perak. Langkah ini mengakhiri kekuasaan Federal Reserve
karena dengan memiliki uang sendiri, maka rakyat Amerika tidak perlu membayar
bunga atas uangnya sendiri. Lima bulan setelah perintah itu dikeluarkan,
Presiden Kennedy mati dibunuh.
Langkah pertama Presiden Johnson adalah membatalkan keputusan Presiden Kennedy
dan memerintahkan Departemen Keuangan Amerika untuk menghentikan pencetakan
mata uang perak sekaligus menarik mata uang perak dari peredaran untuk
dimusnahkan.
Pada hari yang sama Kennedy dimakamkan, Federal Reserve Bank mengeluarkan uang
‘no promise’ yang pertama. Uang ini tidak menjanjikan bahwa mereka akan
membayar dalam mata uang yang sah secara hukum, tetapi mata uang ini merupakan
alat pembayaran yang berlaku.
Presiden Ronald Reagan merencanakan memperbaiki pemerintahan Amerika sesuai
dengan aturan konstitusi. Ia ditembak beberapa bulan kemudian oleh anak dari
teman dekatnya, Wakil Presiden George Bush. Reagan bia diselamatkan, dan dia
tidak mengeluarkan perintah baru dan pada tahun 1987 untuk melaksanakannya
namun perintah tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah Amerika.
Tahun 1993, James Traficant dalam pidatonya yang terkenal di Parlemen mengutuk
sistem Federal Reserve sebagai suatu penipuan besar-besaran. Tak lama setelah
itu ia menjadi korban penyelidikan korupsi sekali pun tidak ada tuntutan
kepadanya selama bertahun-tahun.
Uang dollar yang dicetak sebelum tahun 2000 tertera kata-kata Federal Reserve
Bank cabang mana yang mengeluarkan dan menjamin uang tersebut. Pada cetakan
tahun 2000 dalam desain mata uang yang baru hanya tertera Federal Reserve
System.
Pada tahun 2002, Traficant akhirnya terbukti korupsi. Ia mengatakan bahwa
saksi-saksi yang melawan dia semuanya dipaksa untuk berbohong. Ia juga mengeluh
karena tidak diperkenankan menghubungi semua orang yang menyelidikinya, sebagai
saksi.
Henry Ford pernah berkata, “Barangkali ada bagusnya rakyat Amerika pada umumnya
tidak mengetahui asal-usul uang, karena jika mereka mengetahuinya, saya yakin
esok pagi akan timbul revolusi.”
Dinasti Rothschild dan Al-Aqsha.
Dinasti Rothschild, selain menguasai The Federal Reserve dan sejumlah bank
paling berpengaruh dunia, ternyata juga berjasa besar dalam membangun The
Temple Mount dan kota Yerusalem serta bangsa Yahudi pada umumnya. Dengan
demikian Rothschild juga harus bertanggungjawab atas kerusakan Masjidil Aqsha
sekarang ini.
Rothschild merupakan sponsor utama pembangunan Haikal Sulaiman ketiga yang
direncanakan akan berdiri di atas reruntuhan Masjid al-Aqsha. Haikal Sulaiman
atau Bait Suci, dalam sejarahnya pernah dua kali dibangun. Yang pertama
dibangun oleh Hiram Abiff (Raja Titus, pengikut Lucifer), yang kedua dibangun
oleh Raja Herodes (Romawi). Dan untuk yang ketiga, dinasti Rothschild membangun
bait ini kembali atas mandat Illuminaty.

Selain Bait Suci, Gedung Mahkamah Agung Israel (The Supreme Court Building)
yang arsitektur bangunannya sarat dengan simbol Luciferian, juga dibangun
Rothschild. Posisi bangunan-bangunan yang berada di dalam kompleks Knesset ini
tersusun dalam garis-garis sejajar berbentuk dua persilangan simbol salib
terbalik (inverted cross), sebagaimana tanda salib yang terdapat di dalam
gereja setan.
Gedung Parlemen dan Gedung Mahkamah Agung berada di garis pendek. Garis panjang
yang memotong garis pendek (membentuk salib) akan berakhir di Rockefeller
Museum di utara Gunung Moriah. Tarikan garis-garis ini membentuk “anak kunci”.
Segala sesuatu mengenai gedung Mahkamah Agung ini berkaitan dengan
detail-detail perhitungan matematika yang berunsurkan angka-angka magis yang
secara umum disebut “diabolical” (the cult calculation).
Para insinyur yang dipilih untuk pekerjaan pembangunan gedung Supreme Court ini
ditentukan oleh Dorothy Rothschild. Yang terpilih kemudian adalah cucu
laki-laki dan cucu perempuan Ben-Zion Guine dari Turkey, orang kepercayaan
Baron Rothschild : Ram Kurmi, lahir di Yerusalem (1931) dan Ada Karmi Melanede,
lahir di Tel Aviv (1936). Mereka adalah orang-orang yang sangat ahli dalam ilmu
matematika diabolical dan Ley Lines. Adalah sangat penting bagi para perancang
bangunan ini untuk memiliki keahlian seperti itu supaya mereka mampu
menyelesaikan bangunannya dalam perhitungan angka-angka religious/spiritual
yang tepat di suatu wilayah geografi.
Untuk keseluruhan gedung ada 1000 lembar proyek perencanaan, 1200 tumpukan
semen, waktu bekerja adalah 3 tahun (750 hari), dan hanya 20 pekerja ditetapkan
untuk bekerja setiap hari selama 200.000 hari kerja, 250.000 batu bangunan yang
harus diletakkan dengan tangan dalam posisi-posisi ritual yang penuh arti.
Secara utuh bentuk gedung ini menggambarkan T-cross (salib Tau = symbol
okultisme bagi dewa-dewa Mesir).
Dalam kompleks ini terdapat “Rothschild emblem” yang merupakan simbol
peringatan dan penghargaan kepada dinasti Rothschild generasi pertama,
Rothschild dan lima anak laki-lakinya, sebagai pelopor berdirinya bank-bank
central di hampir semua Negara Eropa.
Keluarga Rothschild membuat beberapa kesepakatan dengan pemerintah Israel
sebelum mereka membangun gedung-gedung di kompleks Knesset, khususnya The
Supreme Court. Kesepakatan tersebut antara lain memberikan ijin kepada
Rothschild untuk membangun The Supreme Court dengan arsitek sendiri, dan biaya
pembangunan seluruhnya ditanggung oleh Rothschilds (tidak seorangpun tahu
berapa nilainya). Satu gedung ini saja menghabiskan waktu pembangunan selama
tiga tahun ditambah satu tahun untuk mengerjakan begitu banyak “rahasia” di
dalamnya.
Memasuki gedung ini, setelah melewati pemeriksaan sekuriti, hal yang pertama
bisa dilihat adalah foto besar di dinding sebelah kiri. Di bagian kiri foto itu
terlihat Teddy Kollek, kemudian Lord Rothschild, disebelah kanan berdiri Shimon
Peres, di bawah kiri adalah Yitzhak Rabin. Yang lainnya adalah keluarga
Rothschild yang terlibat dalam pembangunan The Supreme Court.
Dinasti Rothschild merupakan salah satu dinasti terkuat Luciferian di dunia
sejak dulu hingga kini. Kelimpahan materi yang sangat banyak, juga
kehidupannya, semata-mata dipersembahkan bagi agama Luciferiannya.
Dalam hal ini Rothschild jauh lebih saleh ketimbang orang-orang yang mengaku
beragama monotheisme namun malah memperdagangan agama itu sendiri demi
mengambil keuntungan materi bagi diri pribadi dan keluarganya. Tahukah kamu, George Soros yang pernah menghancurkan ekonomi Asia dengan krisis
ekonomi hebat yang mengakibatkan revolusi "reformasi" di Indonesia
1998, adalah agen dari Rosthchilds.
Mengapa
Yahudi Menguasai Dunia? Inilah Jawabannya!!
FAKTA DAN ANGKA:
Populasi Yahudi di dunia
ada 14 juta orang.
Distribusi:
7 juta di Amerika
5 juta di Asia
2 juta di Eropa
100 ribu di Afrika.
Populasi Muslim: 1,5
miliar dari penduduk dunia.
Distribusi:
6 juta di Amerika.
1 miliar di Asia dan Timur Tengah.
44 juta di Eropa.
400 juta di Afrika.
Kelima dunia adalah Muslim.
Setiap 1 orang Yahudi, ada 107
Muslim di dunia.
Namun, 14 juta orang Yahudi lebih kuat daripada 1,4 Miliar Muslim.
Mengapa?
Kita lanjutkan fakta-fakta dan statistik di atas.
Lihatlah dalam sejarah modern:
Albert Einstein: Yahudi.
Sigmund Freud: Yahudi.
Karl Marx: seorang Yahudi.
Paul Samuelson: Yahudi.
Milton Freedman: Yahudi.
Inovasi Medis yang Paling
Penting:
Penemu medis injeksi, Benjamin Rubin: Yahudi.
Penemu vaksin polio, Jonas Salk: Yahudi.
Penemu obat kanker darah (leukemia), Gertrude Ilion: seorang Yahudi.
Penemu pengobatan hepatitis C, Barukh Bloomberg: Yahudi.
Penemu obat sifilis, Paul Ehrlich: Yahudi.
Penelitian pengembangan sistem kekebalan tubuh, Eli Machenkov: Yahudi.
Penelitian Endokrinologi yang paling penting, Andrew Schally: Yahudi.
Penelitian Cognitive Therapy yang paling penting Aaron Beck : Yahudi.
Penemu Pil Gregory Pecos: Yahudi.
Studi pengobatan kanker yang paling penting, Stanley Cohen, seorang Yahudi.
Penemu dialisis dan peneliti paling penting dalam organ buatan, Willem
Kulovkim: Yahudi.
Penemuan yang Mengubah
Dunia:
Pusat pengembangan prosesor , Stanley Mysore: Yahudi.
Penemu reaktor nuklir, Selandia Liu: Yahudi.
Penemu serat optik, Peter Schultz: Yahudi.
Penemu lampu lalu lintas, Charles Adler: Yahudi.
Penemu stainless steel, Pino Ringkas: Yahudi.
Penemu film audio, Isador Casey: Yahudi.
Penemu mikrofon, Jeramavun Emile Berliner: Yahudi.
Penemu Perekam Video, Charles Ginsburg : Yahudi.
Pembuat Nama dan Merek:
Polo – Ralph Lauren: seorang Yahudi.
Jeans Levi – Strauss Levi: Yahudi.
Starbucks – Howard Schultz adalah Yahudi.
Google – Sergey Brin: Yahudi.
Dell – Michael Dell adalah Yahudi.
Oracle – Larry Ellison: seorang Yahudi.
DKNY-Donna Karan: Yahudi.
Baskin dan Robbins – Irv Robbins: Yahudi.
Dunkin Donuts – William Rosenberg: Yahudi.
Politisi dan Pengambil
Keputusan:
Sekretaris Negara Amerika Serikat, Henry Kissinger: Yahudi.
Presiden Yale University Richard Levin: Yahudi.
Kepala Federal Reserve AS, Alan Greenspan : Yahudi.
U. S. State Secretary, Madeleine Albright : Yahudi.
Politisi AS, Joseph Lieberman : Yahudi.
Sekretaris Negara AS, Casper Enbed : Yahudi.
Menteri Luar Negeri Uni Soviet, Maxim Litvinov : Yahudi.
Perdana Menteri Selandia Baru, John Key: Yahudi.
Perdana Menteri Singapura, David Marshall : Yahudi.
Gubernur Australia, Ishak Isaac : Yahudi.
Perdana Menteri Inggris, Benjamin Disraeli : Yahudi.
Perdana Menteri Rusia, Yevegni Primakov : Yahudi.
Politisi Amerika, Barry Goldwater : Yahudi.
Presiden Portugal, Jorge Sampaio : seorang Yahudi.
Wakil Perdana Menteri Kanada, Herb Jerry : Yahudi.
Perdana Menteri Perancis, Pierre Mendes : Yahudi.
Menteri Negara Inggris, Michael Howard : Yahudi.
Konsultan Austria, Bruno Kryska : Yahudi.
Menteri Keuangan, Robert Rubin : seorang Yahudi.
Tuan spekulasi dan ekonomi, George Soros : Yahudi.
Media Berpengaruh :
CNN – Wolf Blitzer: Yahudi.
ABC News – Barbara Walters: Yahudi.
The Washington Post – Eugene Meyer: Yahudi.
Majalah Time – Henry Grunwald: Yahudi.
The Washington Post – Katherine Graham Yahudi.
New York Times – Joseph Elevid: Yahudi.
New York Times – Max Frankel: Yahudi.
Ini baru sebagiannya.
Fakta Lain:
Dalam 105 tahun terakhir, Yahudi memenangkan 14 dari 180 Nobel.
Pada periode yang sama, 1,5 Miliar Muslim hanya memenangkan tiga hadiah
Nobel.
1 hadiah Nobel adalah untuk 77. 778 orang Yahudi.
Bagi Muslim, 1 hadiah Nobel untuk 500 juta orang.
Apakah ini sebuah kebetulan bahwa
ilmu pengetahuan milik mereka? Atau penipuan? Atau konspirasi? Mengapa prestasi
itu tidak dicapai oleh umat Muslim meskipun mereka sangat banyak dalam jumlah?
Fakta-fakta lain Anda
mungkin menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini:
· Umat Islam sedunia hanya memiliki 500 universitas (terkenal/besar).
· Di Amerika Serikat ada 5.758 Universitas!
· India 8.407 Universitas!
· Tidak ada universitas Islam dari 500 universitas terbaik di dunia.
• Ada 6 universitas Israel dari 500 universitas terbaik di dunia.
· Proporsi pembelajaran di negara-negara Kristen 90%.
· Proporsi pembelajaran di dunia Muslim 40%.
· Tingkat pendidikan 100% ada di 15 negara Kristen.
• Di negara-negara Muslim tidak ada yang tingkat melek hurufnya hingga 100%.
Persentase penyelesaian sekolah
dasar di negara-negara Kristen 98%.
Persentase penyelesaian sekolah dasar di negara-negara Muslim 50%.
Persentase memasuki universitas di negara-negara Kristen 40% .
Persentase memasuki universitas di negara-negara Muslim 2%.
• Hanya ada 230 sarjana Muslim dari
setiap juta orang Islam.
• Ada 5.000 sarjana dari setiap juta orang Amerika.
· Dari setiap 1 juta masyarakat Amerika, ada 1000 orang teknisi.
· Di negara-negara Muslim hanya memiliki 50 per 1 juta orang.
· Negara-negara Islam mengeluarkan dana 0,2% dari total pendapatan nasional
untuk penelitian dan pengembangan.
· Negara-negara Kristen mengeluarkan 5% dari total pendapatan nasional untuk
penelitian dan pengembangan.
· Tingkat distribusi surat kabar harian di Pakistan adalah 23 surat kabar per
1000 penduduk.
· Tingkat distribusi surat kabar harian di Singapura adalah 460 surat kabar per
1000 penduduk.
· Di Inggris, distribusi buku, 2.000 per satu juta orang.
· Di Mesir 17 buku per satu juta orang.
· Alat-alat teknologi canggih
(High-tech) 0,9% dari ekspor Pakistan, 0,2% dari ekspor Kerajaan Arab Saudi dan
0,3% dari ekspor Kuwait, Aljazair dan Maroko.
· Peralatan berteknologi tinggi, 68% dari ekspor Singapura.
Wallahu a'lam.
Bogor, 12 Oktober 2012.